Search

Edith Agastya's Blog

Menulis Karena Suka & Keren

EPISODE KELAM

melangkah di antara kabut
dan kerikil – kerikil tajam
yang menghalang
terasa pekat dan berat
penuh luka dan airmata

kadang terbersit rasa tuk surut
namun sukmaku menggeliat
bangkitkan asa dalam dada
tuk susuri tiap jengkal tanah
meski pedih perih tak terperi

aku harus bertahan
tuk usaikan episode ini
kuyakin,
semua pasti ada akhirnya

batam medio maret 2017
edith agastya

BAKUNG

1/ aku diam terhanyut kakikaki sepi
menatap angan dan mimpi bersilang
memindai kenang helaian bunga bakung
memburai airmata dalam tanya
kemana perginya bayangmu…?

2/ serumpun bakung
menyimpan sekuntum rindu
lusuh tertepis waktu
maafkan jika aku berlalu,
sebelum jemariku menyentuh dinding wajahmu

3/ sepenggal waktu bersamamu
bercanda di ujung malam
kausuntung kuntum bakung di rambutku
senyumku merekah,
dalam sentuhmu yang memenjarakan rasaku

4/ tatapku menembus hamparan langit
mencoba merobek awan bergayut
berharap hujan kan mengetuki bumi
agar kuncup bakungku bermekaran
semarakkan taman asmaraku

5/ pesona rinduku telah lama padam
sejak kauhadiahkan luka mendalam
hanya bakung putih di halaman belakang
yang setia menjamah rasaku
bersama bias cahaya rembulan

catatan19122016
Edith Agastya

HUJAN

Kau datang mengetuki jendela kacaku
Menyentuh rindu yang nyaris membeku
Menguak kenangan yang lama tersimpan
Iramamu selalu saja menentramkan hati
Dan aku selalu merindumu…hujan

Batam31072016
14.04 wib

CATATAN KERINDUAN

Kutinggalkan jejak cintaku di antara pilar – pilar masjid meski kau tak lagi ada di dalamnya. Maafkan aku jika akhirnya hanya meninggalkan luka di antara kita. Bukan cinta yang salah namun waktu dan keadaanlah yang kurang tepat.

Aku yakin akan selalu merindukanmu dalam setiap sujud panjangku. Alunan merdu tilawahmu masih selalu terngiang di telingaku. Kau yang selalu santun menuntun jamaah kini tak lagi kutemukan. Dan aku hanya bisa merindu dan merinduimu setiap saat.

Catatan jum’at petang
120616 – 20.50 wib
Edith Agastya

SERAT KALATIDHA Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita

Dan diterjemahkan oleh Puji Santosa 1. Mangkya darajating praja kawuryan wus sunya-ruri rurah pangrehing ukara karana tanpa palupi. Ponang parameng-kawi kawileting tyas malatkung kongas kasudranira…

Source: SERAT KALATIDHA Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita

TENTANGMU

Mengenangmu…

Selalu menyisakan berbagai rasa

Ada sendu yang membiru

Ada cinta yang menggelora

Ada rindu yang bertalu

Juga ada luka yang menganga

…Senyum lembutmu masih tersimpan di hatiku

…Tatap teduhmu masih membayang di mataku

…Dan aku tak ingin hapuskannya

…Karna aku merasa tentram bersamanya

 

Batam210416

Edith Agastya

KENANGAN KELABU

Menghitung hari

Merangkai serpihan cerita

Yang tertinggal di antara langkah kita yang terhenti

Memintal luka dan airmata

Menggores perih yang menyerpih

Tak tersisa lagi

Rasa yang tertumpah ruah

Membeku di antara rindu yang tersimpan di kalbu

Rasa mesti diakhiri

Rindu harus dibelenggu

Dan langkah kita tak lagi bisa seiring

Realita menghadang dan kita tak mungkin saling memiliki

Perih…..

 

Batam040316

Edith Agastya

Catatan140815

…..di simpang jalan kenangan

Kutemui sosokmu dalam balutan kelam

Mengejutkanku

Pesonamu kian bersinar mendebarkan hati

Lunglai rasa seluruhku

Seperti berpacu kita saling berkejaran

Dalam alur yang sama

Aku tak mampu redakan debaran dadaku

Hingga gemetar seluruh tubuhku

Ternyata pesonamu bagai candu bagiku

Terlalu kuat melekat di kalbuku

Aku bahagia melihatmu meski tanpa senyum dan sapa

Setidaknya aku tahu

Aku masih menyimpan rindu untukmu

 

Batam280116

Edith Agastya

Simpang kenangan

Catatan111215…12.12

 

Tersentak aku

Menatap sosokmu di sudut rindang

Teduh tatapmu tajam tersirat

Menusuk hingga ke kalbu

Menggetar rasa yang perlahan pias

Tak mampu kuredakan debaran jantungku

Ah, kamu tlah jadi candu bagi rasaku

 

Batam260216

Edith Agastya

Catatan050116

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑